Apakah saya harus menabung untuk kuliah anak? Ini pendapat CEO AI Microsoft Mustafa Suleyman
Perkembangan pesat Artificial Intelligence (AI) tidak hanya mengubah cara kita bekerja, tetapi juga diprediksi akan merombak total lanskap pendidikan. Mustafa Suleyman, salah satu pendiri DeepMind dan sekarang CEO Microsoft AI, memberikan pandangan provokatif tentang masa depan pendidikan tinggi dan nilai dari gelar sarjana tradisional.
Dalam sebuah wawancara, Suleyman ditanya langsung oleh host, yang memiliki anak berusia empat dan lima tahun, perlukah ia menabung untuk biaya kuliah anak-anaknya di masa depan? [20:54]
Jawaban Suleyman mengejutkan: “Untuk 15 tahun dari sekarang? Mungkin tidak,” [21:11].
Ia melanjutkan bahwa dirinya tidak yakin kita masih akan menghargai “pendidikan sekelas Stanford” [21:19] yang biayanya sangat mahal. Alasannya, menurut Suleyman, adalah karena di masa depan kita akan memiliki “keahlian kelas dunia yang tersedia” dengan biaya sangat murah, mungkin hanya “$20 per bulan” [21:33] melalui teknologi AI.
Perubahan Model Belajar
Bagi Suleyman, model pendidikan tradisional—seperti program Sarjana (S1) atau Master (S2) yang berfokus murni pada perolehan pengetahuan—kemungkinan besar tidak akan bertahan [19:10]. Proses “akuisisi pengetahuan” akan bergeser menjadi sebuah “percakapan antara Anda dan co-pilot (AI)” [19:17].
Ia menggambarkan masa depan di mana AI berfungsi sebagai tutor pribadi yang ahli dalam subjek apa pun, mulai dari kaktus hingga karpet Persia [19:40]. Ini akan membuat perolehan pengetahuan menjadi “sepenuhnya terdesentralisasi dan tersedia untuk semua orang,” [19:56] seolah memiliki “guru ahli di saku Anda” setiap saat [20:03].
Masa Depan Ruang Kelas
Lalu, apa fungsi sekolah atau ruang kelas jika semua informasi diajarkan oleh AI? Suleyman berpendapat bahwa ruang kelas tidak akan hilang, tetapi fungsinya akan berubah drastis.
Pengajaran materi atau “ilmu pasti” akan berlangsung antara siswa dan AI mereka, baik melalui tutor AI, podcast, atau video yang dibuat oleh AI [22:38].
Ruang kelas fisik kemudian akan menjadi tempat untuk mempraktikkan pengetahuan tersebut. “Para siswa akan berbicara satu sama lain tentang pengetahuan yang telah mereka peroleh dari AI mereka,” [22:44] jelasnya. Ruang kelas akan menjadi arena untuk berdebat dan melatih soft skill yang tidak bisa diajarkan AI, seperti “menjadi lebih berempati, menjadi pendengar yang lebih baik, dan menyesuaikan nada bicara” [22:56].
Apa yang Harus Diajarkan Orang Tua?
Meskipun AI membuat segalanya mudah, Suleyman memperingatkan agar orang tua tidak membiarkan anak-anak bergantung sepenuhnya pada teknologi. Ia menekankan pentingnya menanamkan “disiplin dan friksi” ke dalam proses belajar [23:24].
Menurutnya, salah satu “keterampilan meta” terpenting dari sekolah adalah “disiplin untuk bisa mengajari diri sendiri” [23:14]. Jika semua tersedia instan, anak berisiko “tidak belajar dari manfaat kerja keras,” [23:41] yang ia yakini masih sangat penting.
Keterampilan Utama: Sintesis
Menariknya, Suleyman sendiri tidak memiliki latar belakang teknikal; ia berlatar belakang filosofi [23:51]. Ia berpendapat bahwa di era AI, menjadi teknis (belajar coding) “lebih mudah dari sebelumnya” karena semua materi tersedia di platform seperti YouTube [24:04].
Keterampilan utama yang akan paling dihargai di masa depan, menurutnya, adalah “sintesis” [24:50]. Yaitu kemampuan untuk menyatukan berbagai disiplin ilmu—seperti UX (User Experience), riset, produk, dan estetika—untuk menciptakan sesuatu yang baru [25:02].
Artikel Terkait
Untuk memahami lebih dalam tentang dampak AI terhadap pendidikan dan pekerjaan, baca juga:
Tentang AI dan Masa Depan
- AI Race — The Future is Coming Too Fast - Analisis mendalam tentang kecepatan perubahan yang dibawa AI
- Balapan AI — Masa Depan Datang Terlalu Cepat - Versi Bahasa Indonesia dari artikel di atas
- HAKI dan Artificial Intelligence - Memahami implikasi hukum dan kekayaan intelektual di era AI
AI dalam Pendidikan dan Penelitian
- Bukan Open Book melainkan Open-AI — Model Ujian Mahasiswa Pasca ChatGPT - Bagaimana sistem ujian berubah di era AI
- Menggunakan ChatGPT untuk membantu mengerjakan tugas kuliah atau skripsi - Panduan praktis penggunaan AI untuk akademik
- Panduan Lengkap Menggunakan ChatGPT dengan Prompts, Priming, dan Persona - Teknik lanjutan berinteraksi dengan AI
- Penelusuran Literatur Menggunakan AI - Cara menggunakan AI untuk riset akademik
- This AI thing has forever changed my research workflow - Pengalaman pribadi mengintegrasikan AI dalam penelitian
Konteks Lebih Luas
Pandangan Suleyman tentang pendidikan adalah bagian dari transformasi lebih besar yang sedang terjadi. AI tidak hanya mengubah cara kita belajar, tetapi juga cara kita bekerja, berkreasi, dan bahkan berpikir. Penting bagi orang tua dan pendidik untuk memahami perubahan ini agar dapat mempersiapkan generasi mendatang dengan keterampilan yang tepat.
Video Wawancara Lengkap: