Silabus Ekologi Politik — Studi Kasus Film Pesta Babi
Mata Kuliah: Ekologi Politik · Modul: Perampasan, Negara–Modal, Naratif, dan Perlawanan (8 pertemuan, setengah semester) Teks utama: Film Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita (Dandhy Laksono & Cypri Paju Dale, 2026) — PSN pangan-energi ±2,5 juta hektare di Papua Selatan; dampaknya bagi masyarakat Marind-Anim, Yei-Nan, Awyu, Wambon, dan Muyu. Tingkat: S1 (pengantar) dan S2 (lanjutan). Bahasa pengantar: Indonesia. Rujukan adegan film ditandai Tr. ¶N (paragraf transkrip yang dibagikan di kelas).
Bahan bacaan: lihat Daftar Pustaka & Bahan Bacaan.
1. Deskripsi Modul
Modul ini menjadikan film Pesta Babi sebagai teks primer untuk membedah satu kasus konkret konflik agraria-ekologis di Tanah Papua. Alih-alih membahas teori secara abstrak, mahasiswa membaca satu peristiwa empiris melalui empat lensa analitis yang saling berkaitan — perampasan, persekongkolan negara dan modal, naratif pembenaran, serta alternatif dan perlawanan — masing-masing dalam dua pertemuan.
Film membingkai dirinya sebagai “kolonialisme di zaman kita”: menelusuri lima tokoh adat, memetakan rantai modal (keluarga Fangiono, Jhonlin/Haji Isam, Wilmar, Korindo), instrumen negara (PSN, militer, satgas lintas-kementerian), naratif pembenaran (swasembada pangan-energi, E-10/B-50, mitos “tanah kosong”), serta repertoar perlawanan (Gerakan Salib Merah, palang adat, advokasi hukum, dan pesta babi sebagai konsolidasi).
Judul film adalah metafora produktif. Pesta babi (Muyu: Awon Atatbon) adalah ekonomi resiprokal Melanesia — pesta yang menuntut sepuluh tahun persiapan, babi yang dibesarkan di hutan marga, dan saling-memberi yang membangun aliansi serta menjaga hutan. Film mempertentangkannya dengan “pesta” kolonial: pesta rakus kekuasaan dan korporasi di mana sebagian berpesta sementara sebagian lain menanggung ongkosnya.
Empat pertanyaan pemandu
- Perampasannya siapa? Apa yang dirampas, dari siapa, untuk siapa, dengan mekanisme apa?
- Bagaimana relasi negara dan modal? Bagaimana kekuatan negara — administratif, hukum, koersif — dimobilisasi, dan lewat apa?
- Apa naratifnya? Bagaimana proyek dibenarkan, dan asumsi tersembunyi apa yang menopangnya?
- Apa alternatif dan bentuk perlawanannya?
2. Capaian Pembelajaran Modul (CPL)
Setelah delapan pertemuan, mahasiswa diharapkan mampu:
- Mengidentifikasi aktor, objek, penerima manfaat, dan mekanisme perampasan dalam satu kasus konkret.
- Membedakan akumulasi primitif (Marx) dari perampasan demi akumulasi yang berlanjut (Harvey), serta mengenali green grabbing sebagai bentuk khas perampasan berkedok hijau.
- Menjelaskan keterkaitan struktural antara kebijakan negara, kepentingan modal, dan instrumen pemaksa (koersi/militerisasi), termasuk membaca kritis konsep nekropolitik.
- Membongkar naratif pembangunan (developmentalisme, “tanah kosong”, ketahanan pangan-energi) dan menempatkannya dalam sejarah panjang kolonialisme gula.
- Memetakan ragam strategi perlawanan dan merumuskan alternatif yang berkeadilan ekologis (kedaulatan pangan, FPIC, resurjensi adat).
- Menerapkan keempat lensa pada kasus baru di luar Merauke.
3. Kerangka Analisis
| Lensa | Pertemuan | Konsep Kunci | Sandaran Adegan Film |
|---|---|---|---|
| I. Perampasan | 1 | Akumulasi primitif, enclosure, terra nullius | Yasinta/Ilwayab; patok “Tanah Milik TNI AD”; “as if Papua were an empty land” |
| 2 | Accumulation by dispossession; green grabbing | E-10/B-50; 560.000 ha tebu; 400.000 ha sawit | |
| II. Negara–Modal | 3 | State–capital nexus; negara fasilitator; komprador | Keluarga Fangiono; Jhonlin/Haji Isam; Wilmar; 10 perusahaan satu keluarga |
| 4 | Militerisasi; nekropolitik (Mbembe) | 56.000 tentara; batalyon penyangga; IDP Nduga | |
| III. Naratif | 5 | Hegemoni & wacana (Gramsci); developmentalisme; komprador religius | ”tanah kosong”; ketahanan pangan-energi; Uskup Merauke; Korindo–Keuskupan |
| 6 | Kolonialisme gula; longue durée; “presiden gagal” | Cultuurstelsel Jawa; Suriname; Fiji; Suharto/SBY/Jokowi/Prabowo | |
| IV. Perlawanan | 7 | Repertoar perlawanan; kontra-naratif; mobilisasi hukum | Salib Merah (1.800); palang adat; suara perempuan; ke Jakarta |
| 8 | Kedaulatan pangan; FPIC; resurjensi adat; ekonomi resiprokal | Awon Atatbon (pesta babi); sagu vs padi; aliansi antarmarga |
4. Persiapan Bersama (sebelum Pertemuan 1)
- Seluruh mahasiswa menonton film Pesta Babi secara mandiri dan mencatat lima adegan paling penting versinya, plus satu kutipan tokoh yang paling membekas.
- Mahasiswa S2 menambah satu bacaan teoretis sesuai pertemuan (lihat Daftar Pustaka).
BAGIAN I — PERAMPASAN
Pertemuan 1 — Anatomi Perampasan: Siapa, Apa, untuk Siapa, dengan Mekanisme Apa?
Tujuan. Memetakan anatomi perampasan dalam kasus Papua Selatan: pihak yang dirampas, objek yang diambil, penerima manfaat, dan instrumen yang memungkinkannya. Mengenalkan akumulasi primitif (Marx) sebagai titik tolak.
Konsep kunci. Akumulasi primitif / so-called primitive accumulation (Marx, Capital I, Bagian VIII): pemisahan paksa produsen langsung dari alat produksinya (tanah). Enclosure. Terra nullius / mitos “tanah kosong”.
Sandaran adegan.
- Yasinta Moiwend (Marind-Anim, Ilwayab): “We, the local people, had no idea… the ship already arrived at our port… as if Papua were an empty land.” Hutan sagu dan rawa dibongkar Juli 2024 (Tr. ¶92–96).
- Vincen/Victor Kwipalo (Yei-Nan, Jagebob): tanah marga dipatok bertuliskan “Land owned by the Indonesian Army”; hutan ditebang untuk markas batalyon dan konsesi tebu (Tr. ¶52–54, ¶130–134).
- Hutan sebagai “supermarket / lumbung pangan / bank” bagi Awyu (Tr. ¶74); sagu sebagai “leluhur” yang wajib dijaga (Tr. ¶218–222).
Pertanyaan pemandu.
- Apa persisnya yang dirampas — tanah, hutan sagu, rawa, sungai, ruang hidup, atau relasi spiritual dengan leluhur?
- Bagaimana hak itu dipahami masyarakat (“hanya hak menjaga / right to take care”, Tr. ¶58)?
- Lewat mekanisme apa perampasan dijalankan: penetapan PSN, konsesi (HGU), patok militer, pelabelan “lahan terlantar”, atau manipulasi tanda tangan (Tr. ¶82–84)?
- Mengapa harga “US$18 per hektare” (Tr. ¶186) dan kompensasi Rp300.000/ha menandakan ketimpangan nilai yang lebih dalam?
Aktivitas kelas. Diskusi pembuka (15’) berbagi lima adegan terpenting; kerja kelompok mengisi “matriks perampasan” (siapa / apa / untuk siapa / mekanisme) per tokoh; pleno saling melengkapi.
Diferensiasi. S1: pemetaan empiris dari film + satu artikel berita. S2: baca Marx, Capital I bab 26–27; hubungkan “pemisahan produsen dari tanah” dengan patok TNI dan klaim konsesi.
Tugas. Esai 600–800 kata: “Apa yang sesungguhnya dirampas dalam kasus Papua Selatan?” — minimal dua rujukan.
Pertemuan 2 — Perampasan demi Akumulasi dan Green Grabbing
Tujuan. Membedakan akumulasi primitif sebagai “tahap awal” dari tesis Harvey bahwa perampasan adalah ciri permanen kapitalisme kontemporer; mengenali green grabbing — perampasan berkedok agenda hijau.
Konsep kunci. Accumulation by dispossession (Harvey): pelepasan aset murah untuk menyerap surplus modal; spatial fix — Papua diproduksi sebagai frontier baru. Green grabbing (Fairhead, Leach & Scoones): tanah dirampas atas nama lingkungan/energi terbarukan (biofuel, offset, konservasi).
Sandaran adegan.
- Komposisi 2,5 juta ha: 1,3 juta ha padi; 560.000 ha tebu untuk gula & bioetanol (E-10); 400.000 ha sawit untuk biodiesel (B-50); 380.000 ha sapi (Tr. ¶40–44).
- “The most prominent aspect isn’t the food, but the energy or fuel” (Tr. ¶248).
- “Competition between human stomach and vehicle tanks” — kenaikan harga pangan akibat lahan untuk tangki kendaraan (Tr. ¶284–286).
Pertanyaan pemandu.
- Mengapa label “hijau/energi terbarukan” (bioetanol, biodiesel) penting bagi keabsahan proyek?
- Apakah ini “tahap awal” kapitalisme atau mekanisme berulang penyelamatan akumulasi? (uji tesis Harvey)
- Bagaimana E-10/B-50 menautkan hutan Papua dengan tangki BBM nasional dan pasar ekspor?
- Siapa “konsumen” akhir yang turut menggerakkan perampasan ini?
Aktivitas kelas. Mini-kuliah (20’) Harvey vs Marx & green grabbing; latihan menandai klaim “hijau” lalu memeriksanya dengan data film; diskusi keadilan “transisi energi”.
Diferensiasi. S1: tiga klaim hijau + satu bukti tandingan masing-masing. S2: baca Harvey 2004 dan Fairhead dkk. 2012; hubungkan “spatial fix” dengan pemilihan Papua sebagai lokasi.
Tugas. Analisis 700–900 kata: “Mengapa bioetanol/biodiesel menjadikan perampasan ini green grabbing?”
BAGIAN II — NEGARA DAN MODAL
Pertemuan 3 — State–Capital Nexus: Modal, Keluarga, dan Negara Fasilitator
Tujuan. Menjelaskan bagaimana negara dan modal saling menopang; memetakan konsentrasi modal dan peran negara sebagai fasilitator akumulasi.
Konsep kunci. State–capital nexus; negara fasilitator; komprador (borjuasi perantara); konsentrasi kepemilikan (oligarki).
Sandaran adegan.
- Sepuluh perusahaan tebu/bioetanol dimiliki satu keluarga; 9 dari 10 di bawah Merauke Sugar Group → keluarga Fangiono (Martias, Wirastuty, Ciliandra, Angelia Sudirman) (Tr. ¶250, ¶290–308).
- Jhonlin Group / Haji Isam: kontraktor 2.000 ekskavator (~US$240 juta); saham melonjak 700%–4.000%; mantan timses 2019; menerima Bintang Mahaputra Utama dari Prabowo (Tr. ¶98–112).
- Wilmar (Martua Sitorus) & Korindo; kontrak benih Sugar Research Australia (dibiayai pembayar pajak Australia) (Tr. ¶300–306).
- Peta konsesi “ditarik dari meja di Jakarta”, garis lurus mengikuti batas RI–PNG (Tr. ¶288–290).
Pertanyaan pemandu.
- Instrumen hukum/administratif apa yang dipakai negara mengubah tanah adat jadi area proyek (status PSN, satgas lintas-kementerian, izin)?
- Bagaimana kepentingan modal bertemu kepentingan negara (pertumbuhan, “kedaulatan” pangan-energi, keamanan)?
- Apa makna pemberian Bintang Mahaputra dan kehadiran presiden pada penanaman perdana bagi legitimasi modal?
- Siapa “komprador” lokal dalam rantai ini (birokrat, kepala daerah, elite)?
Aktivitas kelas. Pemetaan jejaring aktor (diagram relasi negara–korporasi–aparat–masyarakat adat, lengkap nama dari film); diskusi: pada titik mana garis “kepentingan publik” vs “kepentingan modal” menjadi kabur?
Diferensiasi. S1: identifikasi instrumen negara konkret dari film + berita. S2: terapkan konsep oligarki/komprador; bandingkan literatur ekonomi-politik Indonesia.
Tugas. Diagram jejaring aktor + catatan 1 halaman menjelaskan tiga relasi kuasa paling menentukan.
Pertemuan 4 — Militerisasi dan Nekropolitik
Tujuan. Menjelaskan mobilisasi kekuatan koersif negara untuk memuluskan akumulasi; menguji secara kritis konsep nekropolitik.
Konsep kunci. Militerisasi ruang; “military operation other than war”; nekropolitik (Mbembe) — kuasa menentukan siapa boleh hidup dan siapa dibiarkan terancam; internal colonialism (pembanding).
Sandaran adegan.
- 56.000 tentara di Papua Barat (1:100 vs rata-rata nasional 1:696); OPM ~1.430 — aparat 58 kali lebih besar (Tr. ¶120–126).
- Batalyon Infanteri Penyangga Daerah Rawan di Jagebob bersebelahan konsesi tebu, dibangun di atas tanah Kwipalo (Tr. ¶130).
- Proyek dibingkai “military operation other than war” (Tr. ¶118); jalan 135 km juga “for military mobilization” (Tr. ¶100).
- IDP: 103.000 (2025), Nduga 20.000; kisah Jubiana & Ema melahirkan dalam pelarian — “Even a pig needs a place to give birth, let alone a human” (Tr. ¶144–152). 60 tahun operasi sejak Trikora 1962.
Pertanyaan pemandu.
- Apa fungsi militer dalam memuluskan proyek: pengawalan, intimidasi, pembebasan tanah, mobilitas?
- Mengapa militerisasi di Papua tak bisa dipisahkan dari sejarah operasi keamanan dan tudingan separatisme?
- Apakah “nekropolitik” tepat, atau berlebihan, bagi kasus ini? Apa untung-ruginya memakai istilah ini?
- Bagaimana penolakan Victor Kwipalo (“this coming August 17 I will not raise the red-and-white flag… if the red and white does not protect us”, Tr. ¶182) dibaca sebagai krisis legitimasi negara?
Aktivitas kelas. Mini-kuliah (20’) nekropolitik & militerisasi; debat kritis “Nekropolitik tepat untuk Merauke” (pro/kontra dengan bukti film; latihan kesetaraan: sajikan argumen terkuat tiap pihak).
Diferensiasi. S1: identifikasi bentuk koersi konkret dari film. S2: baca Mbembe, “Necropolitics”; nilai ketepatan konsep; bandingkan “internal colonialism”.
Tugas. Esai 800–1.000 kata menguji: “Sejauh mana kerangka nekropolitik menjelaskan—atau menyesatkan—kasus Papua Selatan?”
BAGIAN III — NARATIF DAN JUSTIFIKASI
Pertemuan 5 — Hegemoni, Developmentalisme, dan “Tanah Kosong”
Tujuan. Membongkar wacana yang membenarkan proyek dan menilai klaim legitimasinya; menempatkan peran institusi (termasuk gereja) dalam produksi konsensus.
Konsep kunci. Hegemoni & masyarakat sipil (Gramsci); ideologi developmentalisme; mitos “tanah kosong/terlantar”; komprador religius.
Sandaran adegan.
- Naratif resmi: swasembada gula, kemandirian energi (E-10/B-50), ketahanan pangan-energi sebagai “ancaman pertahanan” (Tr. ¶118, ¶248).
- Mitos “tanah kosong”: “as if Papua were an empty land” (Tr. ¶94, ¶290); dibantah “Papua… is not empty land” (Tr. ¶30).
- Komprador religius: Uskup Agung Merauke mendukung PSN; Korindo menyokong finansial Keuskupan; umat Katolik penolak ditangkap (Tr. ¶264–266). Kritik internal: pemimpin “bertindak khianat seperti Yudas”; “negara seperti Pontius Pilatus” (Tr. ¶334, ¶342).
Pertanyaan pemandu.
- Naratif apa yang dipakai: swasembada, kemandirian energi, pembangunan daerah tertinggal, keamanan?
- Asumsi tersembunyi apa yang menopangnya (hutan sagu sebagai “lahan kosong”; Papua “belum produktif/tak bisa bertani”)?
- Bagaimana Natalis membantah: “it is not true that Papuans can’t farm… we grow sweet potatoes” (Tr. ¶224–226)?
- Bagaimana institusi agama bisa menjadi alat hegemoni sekaligus arena perlawanan?
Aktivitas kelas. Analisis wacana membandingkan kutipan pejabat/korporasi dengan testimoni warga; debat terstruktur (satu kelompok memerankan argumen pembela proyek sebagai latihan memahami logika lawan, kelompok lain membantah dengan bukti).
Catatan kesetaraan. Mahasiswa wajib menyajikan argumen terbaik pihak pembela proyek secara jujur sebelum membantahnya, agar kritik dibangun atas pemahaman, bukan karikatur.
Diferensiasi. S1: tiga klaim utama + satu bukti tandingan masing-masing. S2: terapkan analisis wacana kritis (siapa berbicara, dengan otoritas apa, untuk kepentingan siapa) dengan kerangka Gramscian.
Tugas. Analisis wacana 800–1.000 kata atas satu naratif resmi, lengkap dengan asumsi tersembunyi dan bukti tandingan.
Pertemuan 6 — Kolonialisme Gula: Longue Durée dan “Presiden-Presiden Gagal”
Tujuan. Menempatkan kasus dalam sejarah panjang kolonialisme gula dan rangkaian kegagalan food estate; memahami klaim film “kolonialisme di zaman kita”.
Konsep kunci. Longue durée; cultuurstelsel (tanam paksa); rantai kolonial gula; kontinuitas vs perubahan; “presiden-presiden gagal”.
Sandaran adegan.
- Kolonialisme gula lintas-zaman: hutan Jawa → tebu di bawah tanam paksa; buruh Jawa ke Suriname (1890); India ke Fiji; perbudakan Afrika di Karibia/Kuba/Jamaika — “white gold” dulu, bioetanol kini (Tr. ¶322–330).
- Rantai kegagalan food estate: Suharto 1 juta ha gambut Kalimantan (1996, gagal, kebakaran 1997); SBY MIFEE (2010); Jokowi 1,2 juta ha; Prabowo singkong Gunung Mas (gagal) (Tr. ¶230–248).
- “In every colonial feast… there is always the involvement of local compradors, bureaucrats, military, as well as religious figures” (Tr. ¶330).
Pertanyaan pemandu.
- Apa yang berlanjut dan apa yang berubah dari kolonialisme gula klasik ke “kolonialisme bioetanol”?
- Mengapa rangkaian food estate terus gagal namun terus diulang? Siapa yang tetap diuntungkan dari kegagalan?
- Apakah analogi “kolonialisme” memperjelas atau justru mengaburkan analisis?
- Bagaimana pembedaan “swasembada beras” vs “swasembada pangan” (Tr. ¶232) menyingkap bias developmentalis?
Aktivitas kelas. Garis waktu kolektif (tanam paksa → MIFEE → PSN 2024); diskusi “Siapa yang berpesta, siapa yang membayar?” sebagai jembatan ke Bagian IV.
Diferensiasi. S1: tabel “dulu vs kini” kolonialisme gula (aktor, dalih, buruh, korban). S2: esai pendek menilai kekuatan & batas analogi kolonial (bandingkan internal colonialism dan accumulation by dispossession).
Tugas. Esai 800–1.000 kata: “Apakah Pesta Babi benar menyebut ini ‘kolonialisme di zaman kita’? Argumentasikan dengan bukti sejarah dan film.”
BAGIAN IV — ALTERNATIF DAN PERLAWANAN
Pertemuan 7 — Repertoar Perlawanan dan Kontra-Naratif
Tujuan. Memetakan ragam strategi perlawanan masyarakat adat dan sekutunya, serta menilai kekuatan dan keterbatasannya.
Konsep kunci. Repertoar perlawanan (repertoires of contention); kontra-naratif; mobilisasi hukum; politik simbol (agama-budaya); peran perempuan.
Sandaran adegan.
- Gerakan Salib Merah: 1.800 salib merah + palang adat di tanah ulayat, sagu, dan situs sakral — “a prohibition sign… combines culture and religion” (Tr. ¶16–30, ¶252–254).
- Menolak menandatangani dokumen (“signing is dangerous”); menyimpan bukti (Tr. ¶82–84).
- Suara perempuan yang tegas: Yasinta, Enrika, Filomina, Maria Tebung (Gen-Z), Priska Beni (eks-buruh Korindo 9 tahun) — “I am an indigenous woman… I refuse investors… For this land, I will fight. For my child.” (Tr. ¶192, ¶256–266).
- Advokasi ke Jakarta menemui DPR/menuntut Presiden; film sebagai kontra-naratif (Tr. ¶30, ¶348); di luar film: gugatan Suku Awyu & Moi ke Mahkamah Agung (Mei 2024), “All Eyes on Papua”.
Pertanyaan pemandu.
- Bentuk perlawanan apa yang muncul: penolakan lapangan, palang adat, gugatan hukum, kampanye publik, dokumentasi, aliansi lintas pihak?
- Apa kekuatan dan keterbatasan tiap jalur (hukum, opini publik, akar rumput, simbolik)?
- Mengapa perempuan tampil sebagai suara terdepan, dan apa artinya bagi analisis gender dalam ekologi politik?
- Bagaimana film sendiri berfungsi sebagai alat perlawanan—dan mengapa kontra-naratif penting melawan mitos “tanah kosong”?
Aktivitas kelas. Galeri strategi (tiap kelompok memetakan satu strategi: hukum, kampanye, akar rumput, kultural + kekuatan/keterbatasannya); analisis simbol salib merah sebagai perpaduan agama, budaya, dan klaim teritorial.
Diferensiasi. S1: deskripsi strategi + satu usulan penguatan. S2: terapkan teori gerakan sosial (repertoar, political opportunity structure); nilai keterbatasan jalur hukum di hadapan instrumen PSN.
Tugas. Peta strategi perlawanan + catatan 1 halaman tentang teori perubahan (theory of change) di balik dua strategi.
Pertemuan 8 — Alternatif: Pesta Babi, Kedaulatan Pangan, dan Resurjensi Adat
Tujuan. Merumuskan alternatif yang berkeadilan ekologis dengan bertolak dari pengetahuan dan institusi masyarakat adat sendiri — terutama metafora dan praktik pesta babi.
Konsep kunci. Ekonomi resiprokal Melanesia; pesta babi (Awon Atatbon) sebagai arisan/ROSCA pelestari hutan; kedaulatan pangan (sagu vs padi); FPIC; resurjensi adat.
Sandaran adegan.
- Awon Atatbon (Muyu, klan Kimko Jinipjo, pemimpin Wilem Kimko): 10 tahun persiapan; babi dibesarkan lepas di 479 ha hutan marga, tak dibeli di pasar, tak disumbang negara/gereja/LSM; tiap marga menjaga hutannya agar babinya hidup (Tr. ¶364–374).
- Fungsi sosial: “rotating savings and credit associations to preserve their culture and environment… how the Muyu build and expand alliances” (Tr. ¶374). Perlawanan lewat konsolidasi, bukan konfrontasi (Tr. ¶382).
- Kedaulatan pangan: sagu sebagai “leluhur”; kritik definisi sempit “pangan = beras”; “we know how to cultivate sweet potatoes” (Tr. ¶206–226).
Pertanyaan pemandu.
- Bagaimana pesta babi berfungsi sekaligus sebagai ekonomi, institusi pelestarian hutan, dan strategi politik (aliansi)?
- Mengapa metafora dua “pesta” (resiprokal Muyu vs rakus kolonial) menjadi kunci tafsir film?
- Alternatif pembangunan seperti apa yang sejalan dengan pengetahuan adat (kedaulatan pangan lokal, FPIC, pengakuan hak ulayat)?
- Apa syarat agar “transisi energi” benar-benar berkeadilan (HAM, kesetaraan gender, akuntabilitas)?
Aktivitas kelas. Lokakarya alternatif (tiap kelompok merancang satu usulan kebijakan yang menghormati FPIC dan kedaulatan pangan lokal, belajar dari logika Awon Atatbon); penutup mengaitkan Papua Selatan dengan kasus serupa (sawit, tambang, offset karbon).
Diferensiasi. S1: deskripsi praktik + satu usulan alternatif sederhana. S2: analisis pesta babi sebagai institusi common-pool resource (bandingkan Ostrom) dan resurjensi adat; diskusikan batas-batas romantisasi.
Tugas akhir modul. Makalah 1.500–2.000 kata yang menerapkan keempat lensa pada satu kasus di luar Papua Selatan pilihan mahasiswa. S2 wajib ≥5 rujukan akademik.
5. Skema Penilaian
| Komponen | Bobot |
|---|---|
| Partisipasi & kerja kelompok (8 pertemuan) | 20% |
| Tugas mingguan (Pertemuan 1–7) | 30% |
| Makalah akhir modul (Pertemuan 8) | 40% |
| Presentasi/diagram (jejaring aktor / peta strategi) | 10% |
6. Bahan Bacaan
Daftar lengkap, beserta status akses (terbuka/perpustakaan), ada di Daftar Pustaka & Bahan Bacaan. Teks primer: film Pesta Babi (transkrip dibagikan di kelas). Teori inti: Marx (akumulasi primitif), Harvey 2004 (accumulation by dispossession), Fairhead/Leach/Scoones 2012 (green grabbing), Mbembe (nekropolitik), Gramsci (hegemoni).
Disusun sebagai bahan ajar Ekologi Politik. Silakan disesuaikan dengan kalender akademik dan kebijakan penilaian program studi.