Navigation: 🏠 Index | πŸ“– About

You are here: Wilayah Sumatera


4.2 Wilayah Sumatera Isu dan Potensi Wilayah Sumatera

Isu Wilayah

  • Dominasi ekonomi pada komoditas primer (pertanian, perkebunan, kehutanan, dan pertambangan) mencapai hampir 50 persen dari PDRB (2023), dengan nilai tambah yang masih relatif rendah dan memiliki karakteristik yang rentan terhadap fluktuasi pasar global.

  • Diversifikasi dan hilirisasi industri belum optimal, baru mencapai 20 persen dari PDRB (2023), investasi masih lebih banyak terjadi pada sektor ekstraktif dan industri hulu.

  • Stok infrastruktur masih terbatas, masih cukup banyak wilayah di Sumatera yang masih mengalami kesenjangan infrastruktur dan memiliki infrastruktur yang belum memadai untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.

  • Masih relatif tingginya kerentanan dan potensi bencana di Wilayah Sumatera terutama di pesisir barat yang masuk dalam rangkaian pegunungan Bukit Barisan.

  • Degradasi lingkungan seperti kebakaran hutan dan lahan, abrasi, dan penurunan luas lahan pertanian pangan karena alih fungsi lahan, serta pertambangan.

  • Disparitas kualitas sumber daya manusia dan brain/talent drain, angka partisipasi sekolah jenjang menengah atas/kejuruan (70 persen) dan pendidikan tinggi (25 persen) di Sumatera masih relatif senjang, ditambah terjadinya brain/talent drain pada tenaga kerja ahli dan terampil (30 persen) (2023).

  • Prevalensi stunting masih relatif tinggi, rata-rata untuk Wilayah Sumatera dapat mencapai hampir 20 persen (2023).

  • Tingkat kemiskinan rata-rata Sumatera masih 9 persen (2023), dengan yang tertinggi Provinsi Aceh mencapai sekitar 14 persen.

  • Pada daerah-daerah dengan tingkat kemiskinan relatif tinggi, akses terhadap layanan pendidikan dan kesehatan masih relatif rendah, sektor ekonomi unggulan belum bernilai tambah tinggi, serta infrastruktur layanan dasar, konektivitas, dan digital masih terbatas.

Potensi Wilayah

  • Kelapa sawit: Sumatera memiliki perkebunan sawit seluas 10,2 juta hektare dan menghasilkan 67 persen produksi sawit nasional.

  • Komoditas perkebunan potensial lainnya:

    • Karet (70 persen produksi nasional)
    • Kopi (62 persen produksi nasional)
    • Tebu (36 persen produksi nasional)
    • Kelapa (32 persen produksi nasional)
  • Ketahanan pangan: Sumatera berkontribusi 27 persen dalam produksi beras nasional, serta berkontribusi sekitar 16 persen dalam produksi perikanan nasional.

  • Potensi ketahanan energi:

    • Cadangan terbukti batu bara mencapai 12,6 miliar ton
    • Gas bumi 10.729,9 TSCF, dan minyak bumi 2.313,93 MMSTB
    • Potensi clean energy berupa EBT air (6,8 GW), EBT panas bumi (9,48 GW), EBT surya terapung (4,5 GWp), EBT bioenergi (29,5 GW), EBT arus laut (10 GW)
  • Bahan Tambang: terdapat resource logam bauksit sebanyak 109 juta ton dan resource bijah timah sebanyak 2,2 miliar ton, serta logam tanah jarang (REE).

  • Geographical gift: dekat dengan main line dalam global maritime trade route, yaitu Selat Malaka, yang memberikan comparative advantage, terutama dalam sektor perdagangan dan logistik.

  • Potensi dari perairan laut yang luas, yaitu perairan Selat Malaka, Laut Natuna, dan Samudera Hindia, memberikan potensi besar untuk sektor perikanan tangkap.

Sasaran Pembangunan Wilayah Sumatera

Wilayah Sumatera diarahkan menjadi β€œMata Rantai Utama Bioindustri dan Kemaritiman Berdaya Saing dan Berkelanjutan”, untuk itu sasaran pembangunan wilayah Sumatera dan provinsi-provinsi di dalamnya adalah sebagai berikut.

Sasaran Pembangunan Provinsi di Wilayah Sumatera

ProvinsiRata-rata LPE (%)LPE (%)PDRB per kapita (Rp. Juta)Kontribusi PDRB Provinsi (%)Tingkat Kemiskinan (%)Rasio GiniIndeks Modal ManusiaPenurunan Intensitas Emisi GRK (%)IKLH DaerahTPT (%)
Aceh5,8–6,646,8–65,21,16,8–7,678,4–115,30,290–0,2930,303–0,3050,57–0,6036,08–53,634,60–5,28
Sumatera Utara5,2–5,9174,8–249,75,0–4,97,1–8,1177,3–266,00,274–0,2790,318–0,3240,54–0,571,00–18,525,27–5,56
Sumatera Barat6,1–7,090,8–132,71,43,1–3,36,5–7,40,321–0,3240,254–0,2580,59–0,6377,20–77,875,37–5,76
Riau7,1–8,183,4–127,11,43,1–3,36,5–7,40,287–0,2910,243–0,2470,54–0,5752,62–65,894,07–4,94
Kepulauan Riau5,2–5,9174,8–249,75,0–4,97,1–8,1177,3–266,00,279–0,2830,314–0,3170,57–0,601,00–3,134,74–5,20
Jambi6,3–6,809,37–10,3713,10–13,609,50–10,002,92–3,920,337–0,3410,316–0,3200,56–0,5973,71–74,564,51–5,37
Sumatera Selatan7,1–8,183,4–127,11,43,1–3,36,5–7,40,327–0,3320,318–0,3210,54–0,5769,97–80,743,55–3,66
Bengkulu6,5–7,453,2–79,30,56,3–7,255,1–80,60,239–0,2420,311–0,3150,54–0,5757,74–67,602,94–3,42
Lampung5,0–4,97,1–8,183,4–132,7127,11,40,294–0,2980,305–0,3090,55–0,5862,79–72,133,29–3,67
Kepulauan Bangka Belitung4,6–5,573,7–101,90,56,3–7,255,1–80,60,271–0,2750,204–0,2080,56–0,5954,55–62,212,56–3,13

Arah Pembangunan Wilayah Sumatera

Alur Pikir Pembangunan Wilayah Sumatera dalam Mencapai Visi Presiden 2029

Pertumbuhan Ekonomi Nasional menuju 8 persen dan Penurunan Tingkat Kemiskinan serta Peningkatan Kualitas SDM.

Highlight Lokasi Prioritas Pembangunan 2025–2029 Wilayah Sumatera