You are here: Wilayah Jawa
4.3 Wilayah Jawa: Isu dan Potensi Wilayah
Isu Wilayah
• Kawasan perkotaan dan metropolitan menghadapi inefisiensi dalam melayani kota itu sendiri dan daerah sekitarnya, dibuktikan dengan rata-rata nilai Metropolitan Performance Index di Pulau Jawa masih berada di bawah 50 persen.
• Rendahnya penggunaan teknologi tinggi dalam industri yang membuat nilai tambah industri masih rendah (industri di Jawa masih memiliki rasio robot density 5:10.000, bandingkan dengan Malaysia 55:10.000 dan Korea Selatan 1.000:10.000).
• Infrastruktur logistik belum sepenuhnya terintegrasi, terutama antarkawasan, serta terdapat kesenjangan ketersediaan infrastruktur fisik dan sosial untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, terutama di Jawa bagian selatan.
• Masih tingginya kerentanan dan potensi bencana seperti gempa bumi dan tsunami di daerah pesisir selatan Jawa, tanah longsor dan letusan gunung api, banjir rob dan penurunan muka tanah di daerah pesisir utara Jawa.
• Kesenjangan keterampilan dan mismatch pendidikan-industri terlihat dari perbedaan antara keterampilan yang diajarkan di pendidikan dan kebutuhan industri, dengan tingkat pengangguran lulusan SMK dan SMA pada 2023 masing-masing sebesar 9,31 persen dan 8,15 persen.
• Prevalensi stunting, wasting, dan underweight masih relatif tinggi, rata-rata untuk Wilayah Jawa mencapai 20 persen (2023).
• Beban kasus TBC tertinggi ada pada wilayah padat penduduk.
• Tingkat kemiskinan rata-rata Jawa sebesar 8,11 persen (2023), dengan yang tertinggi Provinsi DIY mencapai sekitar 11 persen. Program pengurangan kemiskinan belum terpadu dengan potensi sektor ekonomi unggul dan inovasi pemberdayaan ekonomi pada daerah kantong-kantong kemiskinan tinggi.
Potensi Wilayah
• Pertanian dan ketahanan pangan: Jawa berkontribusi 54,22 persen dalam produksi beras nasional, berkontribusi sekitar 36 persen dalam produksi tebu nasional, berkontribusi sekitar 51,86 persen dalam produksi jagung nasional, serta berkontribusi sekitar 21 persen dalam produksi perikanan nasional.
• Potensi ketahanan energi:
- Cadangan gas bumi 5.846,8 TSCF, dan minyak bumi 1.582,32 MMSTB.
- Potensi clean energy berupa energi surya (640,3 GWp), hidro (2 GW), panas bumi (7,9 GW), bioenergi (9,4 GW), bayu (39,05 GW), dan arus laut (0,4 GW).
• Industri pengolahan: lebih dari 52 persen industri pengolahan di Indonesia terdapat di Pulau Jawa, yang telah membentuk rantai nilai dan pasokan industri yang cukup lengkap.
• SDM terampil: terdapat ratusan perguruan tinggi dengan berbagai disiplin ilmu yang menghasilkan ribuan lulusan tenaga kerja berkualitas.
• Perkotaan: sebanyak 56 persen penduduk Pulau Jawa tinggal di perkotaan, yang dapat menjadi motor penggerak bagi pertumbuhan ekonomi, baik melalui penciptaan demand & supply, serta penyediaan labor/talent pool.
• Sebagian besar wilayah telah terhubung dengan jaringan jalan (nasional dan tol) dan jalur kereta api, serta memiliki beberapa pelabuhan dan bandara utama.
• Jangkauan jaringan seluler 4G telah mencapai sekitar 99,95 persen dari area wilayah permukiman di Pulau Jawa.
• Sistem Jamali sebagai sistem interkoneksi kelistrikan terbesar di Indonesia berkontribusi terhadap 70 persen produksi energi listrik di Indonesia.
Sasaran Pembangunan Wilayah Jawa
Jawa diarahkan menjadi “Megalopolis yang Unggul, Inovatif, Inklusif, Terintegrasi, dan Wilayah Berkelanjutan”. Untuk itu, sasaran pembangunan wilayah Jawa dan provinsi-provinsi di dalamnya adalah sebagai berikut.
Target Indikator Regional (2025–2029)
| Metrik | Rata-rata LPE (%) | LPE Target 2029 (%) | Kontribusi PDRB (%) | Tingkat Kemiskinan (%) | Rasio Gini | Indeks Modal Manusia |
|---|---|---|---|---|---|---|
| Target | 6,9 | 7,9 | 56,5 | 85,4 | 5,09–5,62 | 6,68–7,68 |
Keterangan: Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE); Produk Domestik Regional Bruto (PDRB); Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT)
Sasaran Pembangunan Provinsi di Wilayah Jawa
| Provinsi | LPE 2025–2029 (%) | LPE 2029 (%) | PDRB per kapita 2025 | PDRB per kapita 2029 | Kemiskinan 2025 (%) | Kemiskinan 2029 (%) |
|---|---|---|---|---|---|---|
| DKI Jakarta | 6,8 | 7,9 | 373,4 | 560,8 | 16,7 | 16,5 |
| Jawa Barat | 6,7 | 7,7 | 51,1 | 71,8 | 8,2 | 7,9 |
| D.I Yogyakarta | 6,8 | 7,9 | 74,6 | 114,8 | 14,2 | 13,7 |
| Jawa Tengah | 6,7 | 7,7 | 7,0 | 8,0 | 55,1 | 78,6 |
| Jawa Timur | 6,8 | 7,9 | Lihat catatan | Lihat catatan | 0,9 | 0,8 |
| Banten | 6,8 | 7,8 | 6,7 | 7,7 | 80,7 | 106,4 |
Arah Pembangunan Wilayah Jawa
Alur Pikir Pembangunan Wilayah Jawa dalam Mencapai Visi Presiden 2029
Pembangunan wilayah Jawa difokuskan pada dua pilar utama:
Pertumbuhan Ekonomi Nasional menuju 8 persen
Wilayah Jawa merupakan tulang punggung perekonomian nasional. Melalui peningkatan produktivitas industri, pertanian, dan sektor jasa, Jawa ditargetkan menyumbang pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8 persen pada 2029. Strategi ini melibatkan modernisasi industri, integrasi infrastruktur logistik, dan peningkatan daya saing global.
Penurunan Tingkat Kemiskinan dan Peningkatan Kualitas SDM
Pembangunan inklusif memerlukan pengurangan kemiskinan yang signifikan melalui program pemberdayaan ekonomi lokal dan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Fokus pada pendidikan berkualitas, pelatihan keterampilan yang relevan dengan industri, dan layanan kesehatan yang merata di seluruh wilayah menjadi kunci kesuksesan.
Highlight Lokasi Prioritas Pembangunan 2025–2029 Wilayah Jawa
Pembangunan wilayah Jawa pada periode 2025–2029 akan mengidentifikasi dan mengembangkan lokasi-lokasi strategis dengan potensi pertumbuhan ekonomi tinggi. Prioritas mencakup pengembangan kawasan industri modern, pusat-pusat inovasi teknologi, dan infrastruktur pendukung yang menghubungkan pusat pertumbuhan dengan daerah tertinggal.